Jakarta | Badilag.net (10/5/16)

Mahkamah Agung memiliki Wakil Ketua Bidang Yudisial yang baru setelah Dr. H. M. Syarifuddin, S.H., M.H. dipilih oleh mayoritas hakim agung pada 14 April 2016 untuk menduduki jabatan yang ditinggalkan Prof. Dr. H. Mohammad Saleh, S.H., M.H., yang memasuki masa purnabakti, 1 Mei 2016.

Dua minggu berselang, Presiden RI mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 48/P Tahun 2016 tanggal 26 April 2016 tentang pengangkatan H. M. Syarifuddin untuk menjadi orang nomor dua di lembaga pengadilan tertinggi itu.

Kemudian tanggal 3 Mei 2016 menjadi salah satu hari paling bersejarah dalam perjalanan karir H. M. Syarifuddin karena pada hari itu ia mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Presiden RI untuk membantu Ketua MA RI mengurus bidang yudisial untuk periode 2016-2021.

Penampilannya teduh, berwibawa, ceria dan ramah. Itulah kesan yang didapatkan ketika kita bertatap muka dengan Wakil Ketua MA Bidang Yudisial, Putra Palembang yang lahir di Baturaja, 17 Oktober 1954 ini.

Karir cemerlang

H.M. Syarifuddin terhitung memiliki perjalanan karir yang cemerlang dan cepat. Ia mengawali karir sebagai calon hakim Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh pada tahun 1981. Ia kemudian ditempatkan sebagai hakim di PN Kutacane sejak tahun 1984. Setelah tujuh tahun menjadi pengadil di Kutacane, H.M. Syarifuddin dimutasi ke PN Lubuk Linggau sampai dengan tahun 1995. Selanjutnya diangkat sebagai Wakil Ketua PN Muara Bulian, Jambi.

Karirnya semakin menanjak, ia diangkat sebagai Ketua PN Padang Pariaman dan akhirnya pulang ke kampung halaman sebagai Ketua PN Baturaja pada tahun 1999. Track record-nya yang mengkilap membawanya menjadi hakim Ibukota di PN Jakarta Selatan. Hanya berselang dua tahun, ia mendapat promosi sebagai Wakil Ketua PN Bandung periode 2005-2006 dan kemudian menjadi Ketua pada pengadilan yang sama sejak tahun 2006.

Setelah menjadi Ketua PN Bandung, H.M. Syarifuddin kemudian diangkat sebagai hakim tinggi pada Pengadilan Tinggi Palembang. Karirnya semakin melejit dengan pengangkatan selanjutnya sebagai Kepala Badan Pengawasan (Bawas) MA selama 6 tahun. Tidak itu saja, ia juga pernah menjadi Plt. Kepala Badan Litbang Diklat Kumdil MA ketika masih menjabat Kepala Bawas MA.

Tahun 2013 menjadi salah satu milestone terpenting dalam sejarah karir Syarifuddin karena karena Komisi III DPR RI menetapkannya menjadi hakim agung bersama tujuh kolega lainnya pada 23 Januari 2013. Ketua MA kemudian melantik Syarifuddin menjadi hakim agung pada 11 Maret 2013. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 28 Mei 2015, H.M. Syarifuddin diangkat sebagai Ketua Kamar Pengawasan MA RI. Satu tahun berikutnya, setelah melalui proses pemilihan demokratis di MA, H.M. Syarifuddin resmi menjabat sebagai Wakil Ketua MA Bidang Yudisial ketika pada 3 Mei 2016 Doktor Hukum jebolan Unpar Bandung ini membacakan sumpah jabatan di Istana Negara.

Ikhlas saja tidak cukup

Mengenal Lebih Dekat Wakil Ketua MA Bidang Yudisial yang Baru 1

Anak ketiga dari enam bersaudara ini menyelesaikan pendidikan SD sampai SMA di kota kelahirannya, Baturaja. Tamat SMA, H.M. Syarifuddin ingin kuliah di Jogja meskipun ia tidak tahu harus kuliah di kampus apa. Nama Universitas Gadjah Mada (UGM) pun belum pernah ia dengar. Pokoknya yang penting kuliah di Jogja, karena menurut orang di kampungnya, Jogja itu bagus untuk kuliah.

Dengan diantar ayahnya yang seorang pegawai golongan II/a di Perusahaan Kereta Api yang dulu bernama PNKA, Syarifuddin muda mendaftar di Fakultas Hukum UII Yogyakarta. Di kampus yang banyak melahirkan tokoh hukum tingkat nasional itu, ia tercatat pernah menjadi mahasiswa terbaik se-fakultas hukum dan wisudawan terbaik UII.

Ketika masih sarjana muda, H.M. Syarifuddin pernah bekerja sebagai staff perpustakaan di IAIN Yogyakarta, tetapi hanya sebentar karena kuliahnya akan segera rampung di UII. Belum sempat ijazahnya keluar, ada pembukaan pendaftaran calon hakim. Dengan menggunakan ijazah sementara ia pun mendaftar dan ternyata lulus dan ditempatkan di Kota Serambi Mekah. Naik Kapal Tampomas, Syarifuddin pun berangkat dari Tanjung Priuk ke Belawan, lalu ke Banda Aceh. Takdir pun akhirnya menghantarkan H.M. Syarifuddin menjadi hakim dan terus mengalir hingga sekarang menempati posisi Wakil Ketua Mahkamah Agung.

Ada pengalaman pahit yang kini berbuah manis yang selalu ia ingat ketika pertama kali bertugas sebagai hakim. Selama tujuh tahun bertugas di PN Kutacane, H.M. Syarifuddin tidak pernah pulang kampung lantaran tidak punya ongkos. Gaji kecil, jika harus naik pesawat, bisa-bisa ia dan keluarganya tidak akan makan berbulan-bulan. Tapi semua itu dijalaninya dengan ikhlas.

“Jangankan bermimpi jadi Wakil Ketua MA, menjadi hakim pun awalnya tidak pernah terpikirkan oleh saya,” jawabnya ketika ditanya mengenai jabatan baru yang disandangnya.

Ikhlas semata-mata karena Allah SWT adalah motto hidupnya dalam bekerja. Tetapi menurutnya, ikhlas saja tidak cukup. Selain ikhlas, kita juga harus rajin dan tekun bekerja serta disiplin dan bersungguh-sungguh, kata pengagum K.H. Ahmad Azhar Basyir ini di penghujung wawancara.

Bagaimana tanggapan H.M. Syarifuddin atas perkembangan terkini seputar MA? Temukan jawabannya dalam Rubrik Wawancara Eksklusif di Majalah Peradilan Agama Edisi 9 yang akan segera terbit.

[Achmad Cholil]

Foto: Metrotvnews.com, Ridwan Anwar